Site stats ≡ Anjing Ini Menggonggong Di Dinding, Ternyata Ada Rahasia Gelap! ➤ Brain Berries

Anjing Ini Menggonggong Di Dinding, Ternyata Ada Rahasia Gelap!

Advertisements

Ada kalanya manusia terlalu sibuk meragukan insting sendiri sampai lupa bahwa beberapa hal memang layak dipercaya. Kisah ini datang dari pelosok Virginia, tentang seorang pria yang hampir membiarkan keraguan itu menghancurkan segalanya. Seperti apa kisah selengkapnya? Simak sampai tuntas, ya!

1. Pindah ke Rumah Terpencil

Nathan Cole membeli sebuah rumah pertanian tua di Millbrook, Virginia, melalui lelang harta warisan. Lokasinya jauh dari keramaian. Sebelumnya, rumah itu ditempati pasangan tua bernama Walter dan Dorothy Henderson. Walter meninggal karena stroke, sementara Dorothy yang mengalami demensia parah dikirim ke panti perawatan.

Dua tahun sebelumnya, Nathan menerima pensiun dini dari kepolisian setelah sebuah insiden yang menghantuinya, yaitu saat dia mengabaikan gonggongan anjing K9 miliknya bernama Rex.

Malam itu, Rex memberi sinyal waspada di dekat sebuah van putih di kawasan industri. Namun, Nathan menganggapnya sebagai “positif palsu” karena Rex yang sudah tua sering salah bereaksi. Tiga jam kemudian, seorang gadis berusia 14 tahun ditemukan tewas di dalam van itu.

2. Mengadopsi Frost

Nathan dan istrinya, Sarah, memutuskan untuk mengunjungi penampungan hewan setempat untuk mengadopsi anjing. Alhasil, mata mereka tertuju pada satu nama yang dilingkari dengan pena merah, yaitu Frost.

Di penampungan, sebagian besar anjing melompat-lompat dan menggonggong. Tapi Frost duduk diam di kandang paling belakang. Label di kandangnya tertulis, “Frost, 5 tahun, mantan K9. Masalah perilaku. Sering memberi sinyal pada ancaman yang tidak nyata. Dikembalikan dua kali.”

Nathan dan Frost saling bertatapan. Tidak ada yang berkedip lebih dulu. Mereka seolah berbicara lewat mata. Nathan merasa langsung terkoneksi dengan Frost, dan pasangan itu akhirnya mengadopsi serta membawanya pulang.

3. Gonggongan Tengah Malam

Pukul 02.14 dini hari di hari pertama, gonggongan tajam dan berirama dari Frost membangunkan Nathan. Bukan gonggongan penuh rasa takut atau sekadar iseng, melainkan gonggongan terarah yang sangat dikenal Nathan dari bertahun-tahun berdinas bersama anjing K9. Itu adalah gonggongan sinyal.

Frost berdiri kaku di sudut basement, menghadap dinding timur. Telinga tegak, ekor diam, pandangan terkunci ke beton abu-abu di depannya. Nathan memeriksa dinding itu, mengetuknya, menyinarinya dengan senter. Tidak ada yang aneh. Namun, Frost tidak mau pergi.

Pola ini berlanjut selama lima hari berturut-turut. Gonggongan di pagi hari, siang, petang, bahkan tengah malam! Nathan mencoba segala cara, mulai dari melempar bola tenis, melatih perintah dasar, hingga memberi tulang daging segar dari toko. Tidak ada yang berhasil. Frost selalu kembali ke dinding yang sama.

4. Nathan Mulai Mencari Tahu

Pada hari keempat, tetangga bernama Harold Brennan datang berkunjung. Sambil meneguk kopi, Harold menyebut sesuatu yang membuat Nathan terdiam. Ternyata anjing milik Henderson, sang pemilik rumah dulu, yang juga seekor anjing besar, melakukan hal yang sama persis, yaitu menggonggong ke dinding basement yang sama setiap malam, sampai mereka terpaksa menyuntiknya mati!

Malam itu, Nathan turun ke basement dengan pita pengukur. Dinding luar basement berukuran 32 kaki. Dinding dalamnya hanya 27 kaki 9 inci. Selisihnya lebih dari empat kaki. Nathan pun yakin bahwa di balik beton itu bisa jadi ada sebuah ruangan.

5. Sarah Hampir di Ujung Kesabaran

Di tengah semua itu, pada suatu malam Sarah pulang setelah kerja shift 16 jam di rumah sakit dan mendengar gonggongan yang sama untuk keempat kalinya. Ekspresinya bukan marah, melainkan datar dan kosong.

Sarah kemudian bercerita pada Nathan bahwa adik laki-lakinya dulu juga pernah terobsesi pada satu hal dan tidak bisa berhenti, sampai suatu hari dia menemukannya di garasi dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Sejak saat itu, Sarah belajar mengenali tanda-tanda pada orang-orang atau makhluk di sekitarnya. Dan dia melihat tanda itu pada Frost.

“Entah anjing itu yang pergi, atau kita cari solusi bersama. Tidak ada pilihan lain,” kata Sarah kepada Nathan sebelum naik ke kamar.

6. Keputusan yang Mengubah Segalanya

Di hari kelima, Frost tidak mau makan sama sekali. Anjing K9 terlatih tidak pernah melewatkan makan karena makanan adalah bahan bakar kerja. Bagi Nathan, itu sinyal yang jauh lebih serius daripada gonggongan mana pun.

Lalu malam itu, semuanya memuncak. Frost mulai mencakar dinding dengan panik, kukunya retak dan berdarah, cakarnya terus bergerak meski sudah terluka parah. Nathan bergulat menahannya dan mendekapnya di lantai.

Saat Nathan beranjak hendak pergi dan menyerah, sesuatu terjadi. Frost berdiri, berjalan pelan ke arahnya, duduk di depannya, lalu mengangkat cakarnya yang berdarah dan meletakkannya dengan lembut di atas tangan Nathan. Alhasil, semua keraguan Nathan menghilang. Dia yakin ada sesuatu di balik dinding itu dan lalu memutuskan untuk mengambil palu godam dari garasi.

7. Di Balik Dinding

Dua puluh pukulan, mungkin lebih, tangan berdarah dan bahu pegal. Dinding itu mulai runtuh, dan dari celah yang terbuka, bau menyengat keluar terlebih dahulu. Bau yang Nathan kenal dari bertahun-tahun bertugas di lapangan. Bau tempat kejadian perkara.

Menyinari senter ke dalam celah, Nathan menahan napas. Ada sebuah ruangan berukuran sekitar 6 kali 8 kaki. Kasur tipis dan kotor, ember plastik, botol air berserakan, dan pipa berkarat yang menetes ke dalam wadah logam.

Dan di sudut paling jauh, meringkuk dengan lutut merapat ke dada, ada seorang anak perempuan. Sekitar tujuh tahun. Sangat kurus. Rambutnya kusut. Matanya terbuka lebar, menatap ke arah cahaya tanpa bergerak.

Frost yang masuk lewat celah lebih dulu berbaring pelan di depan anak itu, meletakkan kepalanya di tepi kasur. Gadis itu meraih hidung anjing itu dengan jarinya. Bibirnya bergerak dan mengucap lirih, “Doggy.”

8. Akhirnya Bisa Bernapas

Nama gadis itu Emma! Berat badannya hanya 43 kg saat dilarikan ke rumah sakit. Beberapa minggu setelah kejadian, Nathan mengunjunginya di rumah sakit. Pertanyaan pertama Emma adalah, “Di mana anjingnya?”

Emma mengaku bahwa selama dikurung, dia bisa mendengar gonggongan Frost melalui dinding. Awalnya dia mengira itu mimpi. Tapi Frost terus kembali setiap hari, dan itulah yang membuat Emma percaya bahwa seseorang akhirnya akan datang.

Tiga bulan kemudian, Nathan dan Sarah resmi menjadi orang tua asuh Emma. Nathan akhirnya bisa menghabiskan kopinya sebelum dingin. Frost berbaring di kakinya di teras. Dan dari dalam rumah, terdengar suara Emma membantu Sarah menyiapkan sarapan bersama.